
Palembang – Matahari turut berseri ketika lapangan SMAN 13 Palembang dipenuhi sorak sorai. Para finalis Bujang Gadis generasi ke-9 melangkah mantap di atas panggung, mengenakan busana terbaik mereka. Senyum gugup bercampur percaya diri terpancar, menandai puncak perjalanan panjang yang telah mereka lalui.
Perjalanan itu dimulai berbulan-bulan sebelumnya. Dari 60 peserta yang mendaftar, hanya 20 yang berhasil menembus seleksi ketat: tes potensi akademik, tes bakat, Focus Group Discussion (FGD), hingga wawancara. Mereka adalah 10 bujang dan 10 gadis yang kemudian menjalani masa karantina.
Karantina bukan sekadar persiapan fisik, tetapi juga mental. Setiap Jumat, para finalis mengikuti kelas-kelas pembekalan: public speaking, catwalk, tari, table manners, hingga B3 (Beauty, Brain, Behavior). Natasha Al Maida, Runner Up II Putri Budaya Indonesia, hadir langsung memberikan materi table manners dan B3. “Kami belajar banyak hal baru, terutama bagaimana membawa diri dengan percaya diri,” ujar salah satu finalis.
Namun, kelas tari menjadi tantangan terbesar. Dengan latar belakang yang bukan penari, mereka harus berlatih keras menyiapkan tarian Zapin Rajuk Rindu untuk ditampilkan di Grand Final. Waktu yang terbatas akibat penerapan full day school membuat mereka berlatih hingga sore, melewati pukul 17.00 WIB. “Capek, tapi seru. Kami belajar kompak dan disiplin,” kata seorang finalis bujang.
Puncak acara akhirnya tiba. Lapangan olahraga sekolah berubah menjadi panggung megah. Finalis tampil dalam parade awal, lalu menari dengan penuh semangat. Sorakan penonton bercampur tepuk tangan meriah. Setelah itu, sesi tanya jawab berlangsung menegangkan. Pertanyaan dari juri menguji kemampuan berpikir kritis dan keberanian para finalis.

Penilaian tidak hanya dilakukan saat Grand Final, tetapi juga selama karantina. Kedisiplinan, kecekatan, kejujuran, ketangkasan, keberanian, inisiatif, dan etika menjadi aspek penting. “Bujang Gadis bukan hanya simbol, tetapi representasi pelajar SMAN 13 Palembang. Mereka adalah duta sekolah,” tegas salah satu juri.

Acara semakin istimewa dengan kehadiran juri tamu, di antaranya Andri Emilda atau Bang Acuy (profesional coach pageant) dan Felycia (Wakil 1 Cek Ayu Cek Bagus 2026). Kepala sekolah, guru, orang tua, serta duta dari sekolah lain turut hadir menyaksikan kemegahan siang itu.
Di akhir acara, Pembina Ekstrakurikuler Bujang Gadis SMAN 13 Palembang Ibu Ayu Tiara Lestari, S.Pd. menyampaikan rasa syukur. “Alhamdulillah, Grand Final generasi ke-9 terlaksana dengan baik. Terima kasih kepada semua pihak yang mendukung. Kepala sekolah beserta wakilnya, komite, dan tentunya pihak sponsor yang mensponsori kegiatan ini, Pembina Osis yang mendukung acara ini, pelatih dan koordinator acara yakni Pak Aswin, S.Ag., M.M., Bu Jesicha Aprilia, S.Pd. dan bu Okta Firani Fajri, S.Pd. yg melatih tari, Bu Yusaherlina Firdaus, S.Pd. yang menjadi juri, serta guru-guru dan semua keluarga besar SMAN 13 Palembang semoga tahun depan lebih baik lagi,” ujarnya penuh haru.

Grand Final Bujang Gadis bukan sekadar ajang kompetisi. Ia adalah ruang belajar, tempat para siswa menemukan keberanian, disiplin, dan kebanggaan. Siang itu, panggung SMAN 13 Palembang bukan hanya menampilkan finalis, tetapi juga menampilkan mimpi dan semangat generasi muda yang siap menjadi wajah sekolahnya. (JM)
Copyright © 2017 - 2026 SMA NEGERI 13 PALEMBANG All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id